Translate

Kamis, 17 Januari 2013

PENGARUH PRAKERIN TERHADAP SIKAP WIRAUSAHA SISWA


PENGARUH PRAKERIN TERHADAP SIKAP WIRAUSAHA SISWA

PENDAHULUAN
Peraturan Pemerintah No 29 tahun 1990, pasal 3 ayat 2, berupa tujuan: Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) terutama menyiapkan tamatan untuk (a) memasuki lapangan kerja serta dapat mengembangkan sikap profesional dalam lingkup keahlian bisnis dan manajemen; (b) mampu memilih karir, mampu berkompetisi dan mampu mengembangkan diri dalam lingkup bisnis dan manajemen; (c) menjadi tenaga kerja tingkat menengah untuk mengisi kebutuhan dunia usaha dan industri pada saat ini maupun masa yang akan datang dalam lingkup Bisnis dan manajemen; dan (d) menjadi warga negara yang produktif, adaptif dan kreatif. Dengan demikian siswa SMK sengaja dipersiapkan kelak untuk memasuki lapangan pekerjaan baik melalui jenjang karier menjadi tenaga kerja di tingkat menengah maupun menjadi mandiri, berusaha sendiri atau kewiraswastaan. Untuk itu siswa SMK perlu dibekali dengan keterampilan-keterampilan yang mengarah pada keterampilan kerja dan mandiri (berwiraswasta).
SMK sebagai bentuk satuan penyelenggara dari pendidikan menengah kejuruan yang berada di bawah Direktorat Pembinaan Sekolah Kejuruan, merupakan lembaga pendidikan yang berorientasi pada pembentukan kecakapan hidup, yaitu melatih peserta didik untuk menguasai keterampilan yang dibutuhkan oleh dunia kerja (termasuk dunia bisnis dan industri), memberikan pendidikan tentang kewirausahaan, serta membentuk kecakapan hidup (life skill). Murid di SMK lebih ditekankan untuk melakukan praktik sehingga mereka berpengalaman dan mantap untuk langsung memasuki dunia kerja, tetapi ini tidak menutup kemungkinan para lulusan SMK untuk dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.Selain itu saat ini banyak SMK yang bertaraf internasional untuk menghadapi persaingan di era globalisasi (Doni Muhardiansyah, dkk, 2010:6).
Oleh karena itu, dunia pendidikan dan pengajaran di tingkat kejuruan hendaknya mulai didekatkan dengan dunia bisnis, dunia industri dan dunia kerja di lapangan secara terpadu.Apa yang telah dirintis dalam dunia kejuruan diharapkan mampu menjadi warna dasar kemampuan tingkat menengah di masyarakat secara luas. Tamatan SMK sebenarnya bisa dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja level menengah.Pemerintah berusaha menggarap persiapan siswa SMK untuk bersaing dalam pasar tenaga kerja global melalui program praktik kerja industri di luar negeri. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) didirikan untuk menciptakan sumber daya manusia yang siap bekerja serta mampu menciptakan pekerjaan sesuai dengan 4
keterampilan dan bakat yang dimilikinya. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan banyak siswa yang belum siap untuk berwirausaha, sebagian yang lain memilih bekerja dengan orang lain dan hanya sedikit yang memutuskan membuka usaha sendiri (Tony Wijaya dalam Hartini 2002).
Ada beberapa penyebab siswa SMK banyak yang kurang siap membuka usaha sendiri setelah lulus, diantaranya masih banyak menemukan kendala dilapangan antara lain kurangnya pengetahuan dalam berwirausaha, permodalan, rendahnya motivasi, minimnya fasilitas dan sarana praktek kewirausahaan disekolah yang dikelola secara profesional sebagai tempat untuk melatih dan mendekatkan siswa pada kondisi yang sebenarnya, serta kurangnya dukungan keluarga dan pengalaman yang dimiliki.
Tidak siapnya siswa dalam berwirausaha disebabkan karena pengalaman praktik industri yang mereka miliki masih kurang. Salah satu penyebabnya adalah: (1) instruktur di industri belum disiapkan untuk membimbing siswa dalam pelaksanaan PSG; (2) kebanyakan instruktur di industri berijazah SLTA , hanya sebahagian kecil instruktur yang memiliki latar belakang pendidikan tinggi sehingga pembimbingan tidak efektif; (3) kesiplinan siswa rendah, kemungkinan disebabkan karena persiapan siswa untuk terjun ke PSG masing kurang; (4) latihan kerja masih dirasa kurang efektif, disebabkan karena keterbatasan alat, bahan dan kelengkapan kerja; (5) industri besar dan menengah merasa terbebani dengan kehadiran siswa, disebabkan karena siswa kurang siap latih; (6) industri besar dan menengah mensyaratkan asuransi bagi siswa yang melakukan praktikum, pihak industri tidak mau mengambil risiko adanya kecelakaan fatal yang terjadi selama melaksanakan praktikum industri. Sedangkan pihak sekolah belum menyiapkan (Djoko dalam Soenarto, 2003:18)
Prosser dan Snedden dalam Soenarto (2003:29) mengatakan “pendidikan kejuruan akan efektif jika gurunya telah mempunyai pengalaman yang sukses dalam menerapkan pengetahuan dan keterampilan kerja”.Dari pernyataan tersebut dapat diartikan bahwa guru pengajar harus mempunyai pengalaman dan keahlian dalam bidangnya karena guru sebagai aktor sebagai variabel penentu keberhasilan pendidikan kejuruan dalam memenuhi misinya menghasilkan lulusan yang memiliki pengetahuan, keterampilan, nilai, sikap dan wawasan untuk masuk ke dunia kerja. 5
Menurut pendapat Brown dalam Wardaya (2005) bahwa pelaksanaan pembelajaran kewirausahaan yang diajarkan di sekolah, selama ini baru memperkenalkan konsep teori kewirausahaan, sebenarnya dalam proses pengajaran kewirausahaan harus diberikan keterampilan-keterampilan luas melalui pembentukan dan pengembangan pribadi dan mengasah kemampuan untuk membuat perencanaan yang inovatif peserta didik.
Faktor lain yang menentukan berhasil tidaknya siswa dalam proses belajar adalah motivasi belajar. Dalam kegiatan belajar, motivasi merupakan keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar (Sardiman, 2006:74).Kebanyakan siswa di SMK kurang termotivasi untuk belajar kewirausahaan, padahal materi diklat kewirausahaan adalah sebagai bekal dasar untuk berwirausaha (Akhimelita, 2009).
Teori kebutuhan berprestasi dari McCelland disebut pula sebagai teori kebutuhan yang dipelajari (Learned Theory), hal ini disebabkan karena dominasi masing-masing kebutuhan (kebutuhan berprestasi-nAch, kebutuhan berafiliasi-nAff, dan kebutuhan kekuasaan-nPow) sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan individu akan mempelajari kebutuhan yang sesuai dengan lingkungan tersebut. (Mery Citra, 2009).Selama ini lingkungan sekolah kurang mendukung untuk tumbuh dan berkembangnya kebutuhan untuk berprestasi.(Akhimelita, 2009).
Pra observasi yang peneliti lakukan di kota Barabai, dapat diperoleh gambaran bahwa masih banyak lulusan SMKN yang bekerja tidak sesuai dengan keterampilan atau disiplin ilmu yang mereka miliki, seperti ada yang bekerja sebagai sales, polisi, tentara dan ada juga yang bekerja sebagai sopir dan lain-lain yang kesemuanya jauh dari kenyataan yang mereka pelajari. Kebanyakan dari siswa tidak mempunyai modal dan keberanian dalam berwirausaha serta tidak mempunyai gambaran yang jelas tentang bagaimana cara berwirausaha. Mereka lebih suka bekerja dengan orang lain dari pada mengambil resiko, walaupun pada posisi sebagai sales, bekerja di toko atau bengkel.
Dari beberapa uraian di atas serta hasil observasi yang dilakukan peneliti dapat disimpulkan bahwa terdapat banyak faktor yang mempengaruhi tingkat kesiapan siswa untuk berwirausaha. Oleh karena itu peneliti terpanggil dan berkeinginan untuk melakukan penelitian dengan judul “Faktor-faktor yang mempengaruhi kesiapan berwirausaha siswa SMKN Barabai Kabupaten Hulu Sungai Tengah Kalimantan Selatan”
LANDASAN TEORI 6

A. Pendidikan Menengah Kejuruan

Pendidikan kejuruan yang dikembangkan di Indonesia diantaranya adalah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dirancang untuk menyiapkan peserta didik atau lulusan yang siap memasuki dunia kerja dan mampu mengembangkan sikap profesional di bidang kejuruan.Lulusan pendidikan kejuruan, diharapkan menjadi individu yang produktif yang mampu bekerja menjadi tenaga kerja menengah dan memiliki kesiapan untuk menghadapi persaingan kerja.Kehadiran SMK sekarang ini semakin didambakan masyarakat; khususnya masyarakat yang berkecimpung langsung dalam dunia kerja.Dengan catatan, bahwa lulusan pendidikan kejuruan memang mempunyai kualifikasi sebagai (calon) tenaga kerja yang memiliki keterampilan vokasional tertentu sesuai dengan bidang keahliannya. Kaitannya dengan pendidikan kejuruan, Clarke & Winch (2007:62) menyatakan bahwa “vocational education is about the social development of labour, about nurturing, advancing and reproducting particular qualities of labour to improve the productive capacity of society”, secara bebas dapat diartikan, pendidikan kejuruan merupakan upaya pengembangan sosial ketenagakerjaan, pemeliharaan, percepatan dan peningkatan kualitas tenaga kerja terttentu dalam rangka peningkatan produktivitas masyarakat.
Henry Thompson dalam Berg (2002:45) menjelaskan tentang pendidikan kejuruan sebagai berikut:
Vocational education is “learning how to work”, ….vocational education has been an effort to improve technical competence and to raise an individual’s position in society through mastering his environment with technology. Additionally, vocational education is geared on the needs of the job market and thus is often seen as contributing to national economic strength.
Berg berpendapat bahwa pendidikan kejuruan itu identik dengan belajar bagaimana untuk bekerja, pendidikan kejuruan berupaya bagaimana untuk meningkatkan kompetensi teknik dan kompetensi seseorang dilingkungannya melalui penguasaan teknologi dan pendidikan kejuruan berkaintan erat dengan kebutuhan pasar kerja, oleh karena itu sering dipandang sebagai sesuatu yang memberikan konstribusi yang kuat terhadap ekonomi nasional.
Sanders dan Stevention dalam Favlova (2009:5) mengemukakan pendapat tentang pendidikan kejuruan sebagai berikut: 7
….conceptualisme of vocational education are related to skill in using tools and machines, vocational educations in indentified a number of dichotomies in these underlying assumptions. These include versus practical/functional knowledge, conceptual understanding versus proficiency in skills, creative abilities versus reproductive abilities, ratio intellectual skills versus physical skills, preparations for life versus preparations for work.
Pendapat di atas dapat diartikan bahwa pendidikan kejuruan berkaitan dengan keterampilan menggunakan alat dan mesin, pendidikan kejuruan diidentifikasikan pada asumsi dikotomi yaitu pendidikan umum lawan pengetahuan khusus, teori lawan praktik, konsep lawan keterampilan, intelektual lawan fisik, dan persiapan untuk kehidupan lawan persiapan untuk bekerja.
Upaya untuk mencapai kualitas lulusan pendidikan kejuruan yang sesuai dengan tuntutan dunia kerja tersebut, perlu didasari dengan kurikulum yang dirancang dan dikembangkan dengan prinsip kesesuaian dengan kebutuhan stakeholders.Kurikulum pendidikan kejuruan secara spesifik memiliki karakter yang mengarah kepada pembentukan kecakapan lulusan yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas pekerjaan tertentu.Kecakapan tersebut telah diakomodasi dalam kurikulum SMK yang meliputi kelompok Normatif, Adaptif dan kelompok Produktif.


D. Pengalaman Praktek Industri
Menurut Wardiman (1998:79) Pendidikan sistem ganda adalah suatu bentuk penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan keahlian kejuruan yang memadukan secara sitematik dan sinkron program pendidikan di sekolah dan program penguasaan keahlian yang diperoleh melalu bekerja langsung di dunia kerja, terarah untuk mencapai suatu tingkat keahlian profesional tertentu.
Kebijakan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia yang dikembangkan untuk meningkatkan relevansi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), yaitu relevansi dengan kebutuhan pembangunan umumnya dan kebutuhan dunia kerja, dunia usaha serta dunia industri khususnya. Beberapa prinsip yang 12
akan dipakai sebagai strategi dalam kebijakan Link and Match diantaranya adalah model penyelenggaraan Pendidikan Sistem Ganda (PSG) (Sugihartono, 2009).
Menurut Wardiman (1998:79) tujuan penyelenggaraan Pendidikan Sistem Ganda adalah:
1. Menghasilkan tenaga kerja yang memiliki keahlian profesional (dengan tingkat pengetahuan, keterampilan dan etos kerja yang sesuai dengan tuntutan lapangan kerja.
2. Memperkokoh “Link and Macth” antara sekolah dan dunia kerja.
3. Meningkatkan efesiensi proses pendidikan dan pelatihan tenaga kerja yang berkualitas profesional.
4. Memberi pengakuan dan penghargaan terhadap pengalaman kerja sebagai bagian dari proses pendidikan.

Selanjutnya Wardiman (1998:80) menjelaskan bahwa pelaksanaan pendidikan sistem ganda didukung oleh beberapa faktor yang menjadi komponennya, antara lain institusi pasangan, program pendidikan dan pelatihan bersama, kelembagaan kerjasama, nilai tambah dan jaminan keberlangsungan (sustainability), antara lain: (1) institusi pasangan; (2) program pendidikan dan pelatihan bersama; (3) sistem penilaian dan sertifikasi; (4) kelembagaan kerjasama; (5) nilai tambah bagi sekolah; (6) jaminan keterlaksanaan.
Pengalaman kerja di DU/DI merupakan proses pembelajaran bagi siswa untuk memperoleh keahlian, karena di lembaga pendidikan kompetensi utama yang dipelajari lebih bersifat dasar dan umum, sementara di dunia kerja mereka akan memperoleh keadaan nyata kehidupan dunia kerja. Pengalaman kerja tersebut yang akan membentuk kompetensi yang relevan antara pengalaman belajar yang diperoleh di lembaga pendidikan dengan pengalaman belajar di dunia industri (Nizwardi Jalinus, 2011).
Menurut Anwar (2001) dilaksanakannya program prakerin di SMK tidak hanya bermanfaat bagi siswa yang bersangkutan, tetapi juga bermanfaat bagi sekolah dan industri tempat prakerin.Hasil belajar siswa selama prakerin menjadi lebih berarti karena siswa melakukan secara langsung.Lulusan SMK ketika masuk dunia kerja menjadi percaya diri karena sudah mengetahui lebih dahulu kondisi industri secara nyata.
Konsep kemitraan sekolah dan industri terutama dalam hal prakerin menurut Griffiths & Guile (2003:2) “… takes into account four interrelated practices of learning through work experience : acquiring theoretical knowledge, dialogic inquiry, boundary crossing and resituating knowledge and skill”. Terdapat empat hal yang saling berkaitan dalam 13
pembelajaran dengan model pengalaman kerja yaitu penggabungan pengetahuan teori, pertanyaan dialog, lintas batas, dan perubahan pengetahuan dan keterampilan.
Menurut Oemar Hamalik (2011:29) pengalaman adalah sumber pengetahuan dan keterampilan yang bersifat pendidikan dan terintegrasi dalam tujuan pendidikan. Pengalaman diperoleh karena adanya interaksi antara individu dengan lingkungannya.
Dengan demikian pengalaman praktik industri sangat membantu siswa SMK dalam meningkatkan kompetensinya baik secara kognitif, psikomotor maupun afektif. Siswa akan lebih menguasai materi yang diperoleh di sekolah apabila dipraktikkan pada situasi nyata. Keterampilan kerja pun dapat lebih baik apabila siswa dilatih untuk mengerjakan sesuai dengan kondisi nyata di dunia kerja.Dengan demikian pengalaman praktik industri dapat membantu kesiapan berwirausaha siswa. 19
0,446 menunjukkan bahwa semakin tinggi pengalaman praktik industri siswa, maka kesiapan berwirausahanya juga semakin tinggi.
3. Terdapat pengaruh positif antara motivasi berprestasi siswa terhadap kesiapan berwirausaha. Hal ini dibuktikan dengan nilai t hitung 5,738 dan nilai signifikan (p) lebih kecil dari 0,05 (0,000<0,05). Nilai positif pada koefisien regresi0,443 menunjukkan bahwa semakin tinggi motivasi berprestasi siswa, maka kesiapan berwirausahanya juga semakin tinggi.
4. Terdapat pengaruh secara bersama-sama antara pengetahuan kewirausahaan siswa, pengalaman praktik industri siswa dan motivasi berprestasi siswa terhadap kesiapan berwirausaha siswa. Hal ini dibuktikan dari nilai F hitung sebesar 95,418 dengan signifikansi sebesar 0,000 lebih kecil dari 0,05. Nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,599 yang berarti pengetahuan kewirausahaan siswa, pengalaman praktik industri siswa dan motivasi berprestasi siswa mempengaruhi kesiapan berwirausaha siswa sebesar 59,9%. sedangkan sisanya 41,1% kesiapan berwirausaha siswa dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.


DAFTAR PUSTAKA
Akhimelita.(2010). Pengaruh motivasi berprestasi dan prestasi belajar terhadap kesiapan berwirausaha.Tesis.Universitas Pendidikan Indonesia.Diunduh pada tanggal 15 Januari 2010.http://repository.upi.edu/tesisview.php?no_tesis=9
Anwar. (2001). Pelaksanaan program pendidikan sistem ganda pada smk di kota Kendari. Diunduh pada tanggal 15 Januari 2011 darihttp://www.Dediknas.go.id/jurnal/41/Anwar.htm
Atty, S.S. (2006). Kewirausahaan untuk sekolah menengah kejuruan. Bandung: Grafindo

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar